<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Aguscaplink's Weblog</title>
	<atom:link href="http://aguscaplink.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aguscaplink.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 17 Mar 2008 03:59:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='aguscaplink.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Aguscaplink's Weblog</title>
		<link>http://aguscaplink.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://aguscaplink.wordpress.com/osd.xml" title="Aguscaplink&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://aguscaplink.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Obyek isata Sulawesi Selatan</title>
		<link>http://aguscaplink.wordpress.com/2008/03/17/obyek-isata-sulawesi-selatan/</link>
		<comments>http://aguscaplink.wordpress.com/2008/03/17/obyek-isata-sulawesi-selatan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Mar 2008 03:38:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aguscaplink</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aguscaplink.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Obyek wisata di Tana Toraja, daerah yang cantik di Indonesia - Tourist Destinations in Torajaland, Sulawesi (Celebes) - BATUTUMONGA &#160; Berlokasi di daerah Sesean yang beriklim dingin, sekitar 1300 meter di atas permukaan laut. Di daerah ini terdapat 56 menhir batu dalam sebuah lingkaran dengan lima pohon kayu ditengahnya. Kebanyakan dari batu menhir itu berukuran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aguscaplink.wordpress.com&amp;blog=2612551&amp;post=10&amp;subd=aguscaplink&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"> <b><font size="4">Obyek wisata di Tana Toraja, daerah yang cantik di Indonesia</font></b><br />
- Tourist Destinations in Torajaland, Sulawesi (Celebes) -</p>
<hr />
<table border="0" cellpadding="2" width="588">
<tr>
<td width="755"><b>BATUTUMONGA</b></td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">
<p align="justify">   <img src="http://www.batusura.de/wisata/batutumonga.jpg" alt="Click for more pictures" align="left" border="0" height="150" hspace="5" vspace="6" width="200" /><font size="3">Berlokasi di daerah Sesean yang beriklim dingin, sekitar 1300 meter   di atas permukaan laut. Di daerah ini terdapat 56 menhir batu dalam sebuah   lingkaran dengan lima pohon kayu ditengahnya. Kebanyakan dari batu menhir   itu berukuran dua sampai tiga meter tingginya. Pemandangan yang sangat mempesona   di atas Rantepao dan lembah disekitarnya, dapat dilihat dari tempat ini sangat   menarik untuk dikunjungi.</font></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="755"><span id="more-10"></span></td>
</tr>
<tr>
<td width="755"><b>BORI</b></td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">
<p align="justify">   <a href="http://www.batusura.de/borika.htm"><img src="http://www.batusura.de/wisata/bori.jpg" alt="Click for more pictures" align="left" border="0" height="150" hspace="5" vspace="6" width="200" /></a><font size="3">Obyek wisata utama adalah rante (tempat upacara pemakaman secara   adat yang dilengkapi dengan buah menhir / megalit), dalam bahasa Toraja disebut   simbuang batu. Seratus dua batu menhir yang berdiri dengan megah terdiri   dari 24 buah ukuran besar, 24 buah ukuran sedang dan 54 buah ukuran kecil.   Ukuran menhir ini mempunyai nilai adat yang sama. Penyebab perbedaan adalah   situasi dan kondisi pada saat pembuatan / pengambilan batu, misalnya; masalah   waktu, kemampuan biaya dan situasi pada masa kemasyarakatan. Megalit / simbuang   batu hanya diadakan bila seorang pemuka masyarakat yang meninggal dunia dan   upacaranya dilaksanakan dalam tingkat Rapasan Sapurandanan (kerbau yang dipotong   sekurang-kurangnya 24 ekor). Pada tahun 1657 Rante Kalimbuang mulai digunakan   pada upacara Pemakaman Ne&#8217;Ramba&#8217; dimana 100 ekor kerbau dikorbankan dan didirikan   dua simbuang batu.</font></p>
<p align="justify">   <font size="3">Selanjutnya pada tahun 1807 pada acara pemakaman Tonapa Ne&#8217;Padda&#8217;   didirikan 5 buah simbuang batu, sedang kerbau yang dikorbankan sebanyak 200   ekor. Ne&#8217;Lunde yang pada upacaranya dikorbankan lebih dari 100 ekor kerbau   didirikan 3 buah simbuang batu.</font><br />
<font size="3"> Selanjutnya berturut-turut sejak tahun 1907, banyak simbuang   batu didirikan dalam ukuran besar, sedang, kecil dan secara khusus pada pemakaman   Almarhumah Lai Datu (Ne&#8217; Kase&#8217;) pada tahun 1935 didirikan satu buah simbuang   batu yang terbesar dan tertinggi. Simbuang batu yang terakhir adalah pada   upacara pemakaman Almarhum Sa&#8217;pang (Ne&#8217;Lai) pada tahun 1962.</font></p>
<p align="justify">   <font size="3"> Dalam kompleks Rante Kalimbuang tersebut terdapat juga hal-hal   yang berkaitan dengan upacara pemakaman yaitu:</font></p>
<ol>
<li>
<p align="justify">       <font size="3"> Lakkian yaitu persemayaman jenazah selama upacara dilaksanakan       di Rante</font></p>
</li>
<li>
<p align="justify">       <font size="3">Balakkayan yaitu panggung tempat membagi daging secara       adat</font></p>
</li>
<li>
<p align="justify">       <font size="3">Sarigan yaitu usungan jenasah Langi&#8217; yaitu bangunan induk       menaungi sarigan</font></p>
</li>
<li>
<p align="justify">       <font size="3">Liang Pa&#8217; / kuburan batu yang dipahat.</font></p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755"><b>BUNTAO</b></td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">
<p align="justify">   <a href="http://www.batusura.de/buntao.htm"><img src="http://www.batusura.de/wisata/buntao.jpg" alt="Click for more pictures" align="left" border="0" height="200" hspace="5" vspace="6" width="150" /></a><font size="3">Buntao adalah kampung yang sangat menarik untuk dikunjungi khususnya   di waktu hari pasar. Buntao mempunyai patane, iaitu kuburan yang berbentuk   rumah Toraja. Dan di atas bukit di sekitar kampung banyak terdapat kuburan tua.</font></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755"><b>BUNTU KALANDO</b></td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">
<p align="justify">   <a href="http://www.batusura.de/kalando.htm"><img src="http://www.batusura.de/wisata/kalando.jpg" alt="Click for more pictures" align="left" border="0" height="150" hspace="5" vspace="6" width="200" /></a><font size="3">Obyek wisata ini adalah Tongkonen Puang Sangalla&#8217; yang telah difungsikan   sebagai museum dan home stay terletak di elurahan Kaero, kecematan Sangalla&#8217;,   20 km dari kota Rantepao. Buntu Kalando mempunyai adat &#8220;Tando Tananan Lantangna   Kaero Tongkonan Layuk&#8221; yaitu sebagai tempat kediaman Puang Sangalla&#8217;. Tonkonan   ini dibangungun bersama dengan tiga lumbung padi (alang sura&#8217;).</font></p>
<p align="justify">   Buntu Kalando sebagai Tongkonan Tananan Lantangna Kaero Tongkonan Layuk   dilengkapi dengan beraneka ragam tanduk yaitu tanduk kerbau, tanduk rusa,   dan tanduk anoa terpampang di bagian muka tongkonan dua buah kabongo&#8217; yaitu   satu kabongo&#8217; bonga sura&#8217; dan satu kabongo&#8217; pudu&#8217; serta di atasnya didudukkan   katik yang menyerupai Langkan maega (burung elang), perlambang kebesaran.</p>
<p>   Sebagai museum dalam tongkonan ini dilengkapi barang-barang koleksi antara   lain:</p>
<ul>
<li>       Alat kerajaan Sangalla&#8217;</li>
<li>       Pakaian kebesaran</li>
<li>       Barang-barang bersejarah</li>
<li>       Barang-barang antik</li>
<li>       Alat-alat perang</li>
<li>       Alat-alat ritus</li>
<li>       Alat-alat pertanian</li>
<li>       Alat-alat dapur</li>
<li>       Alat-alat makan</li>
<li>       Alat-alat minum</li>
<li>       Barang-barang berchasiat (balo&#8217;)</li>
</ul>
<p>Demikian sejarah singkat Buntu Kalando, yang selalu siap menanti kunjungan   anda.</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755"><b>BUNTU PUNE</b></td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">
<p align="justify">   <a href="http://www.batusura.de/buntup.htm"><img src="http://www.batusura.de/wisata/buntupune.jpg" alt="Click for more pictures" align="left" border="0" height="150" hspace="5" vspace="6" width="200" /></a><font size="3">Obyek wisata Buntu Pune terletak ± 3 km arah selatan jurusan   Ke&#8217;te&#8217; Kesu&#8217;, Buntu Pune adalah salah satu permukiman yang dibangun oleh   Pong Maramba&#8217; disekitar tahun 1880 dan merupakan pusat pemerintahannya setelah   menjadi Parengnge&#8217; di wilayah Kesu&#8217; dan Tikala. Pada lokasi tersebut terdapat   beberapa lumbung dan tongkonan yang dipindahkan dari daerah perbukitan dan   lereng-lereng gunung batu oleh generasi berikutnya serta dibangun bertipe   permukiman orang Toraja zaman dulu yang bernuansa exklusif, sukar dicapai   musuh karena pos-pos pengintaian yang berlapis-lapis serta didukung oleh   situasi alam di sekitarnya. Buntu Pune didukung oleh latar belakang batu   cadas dimana pada dinding-dinding batu tersebut terdapat gua-gua alam yang   juga dimanfaatkan untuk kuburan-kuburan leluhur. Dengan demikian kita banyak   menjumpai erong (peti mayat purba) di dalam liang-liang tersebut. Di lokasi   tersebut terdapat juga patane (kuburan dari semen) di puncak gunung batu   yang dibuat sekitar tahun 1918 dan sampai saat ini masih digunakan.</font>   <font size="3"> Buntu Pune sampai sekarang masih terpelihara dengan baik   dan termasuk salah satu situs peninggalan sejarah dan kepurbakalaan pada   suaka peninggalan sejarah dan purbakala Sulawesi Selatan dan Tenggara.</font></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755"><b>GALUGA DUA</b></td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">
<p align="justify">   <a href="http://www.batusura.de/galuga.htm"><img src="http://www.batusura.de/wisata/galuga2.jpg" alt="Galuga Dua" align="left" border="0" height="150" hspace="5" vspace="6" width="200" /></a>Tongkonan Layukna Galuga Dua merupakan salah satu tongkonan yang dijadikan   pengadilan, selain digunakan untuk pengadilan terhadap pelanggaran adat yang   menjadi tanggung jawab To&#8217;Perengnge, juga merupakan pusat musyawarah para   pemimpin keluarga dari Tongkonan Galuga dua untuk menentukan suatu rencana.   Terletak sekitar 12 Km, arah utara dari Rantepao, Tongkonan Layukna Puang   Galuga Dua; ini dibangun pada tahun 1189 oleh kedua putra Galuga. Dari kedua   putranya ini, masing-masing membangun Tongkonan yaitu Tongkonan Papabannu&#8217;   dari putra pertama dan Banau Sura&#8217; dari putra keduanya.</p>
<p align="justify">   Tongkonan Layukna Galuga selain tongkonan keluarga Galuga Dua juga merupakan   pusat pertenunan dengan bebagai motif sesuai dengan kebutuhan adat dan ciri   khas budaya Toraja. Macam-macam motif tenunan adalah: Tenunan Pamiring khusus   untuk sarung perempuan,Tenunan Sappa khusus untuk celana laki-laki, Tenunan   Paramba&#8217; khusus untuk selimut, Tenunan Paruki&#8217; khusus taplak meja dan dekorasi   atau hiasan dinding, tenunan Lando khusus tombi untuk pesta untuk  pesta   rambu solo&#8217; atau sapu randanan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755"><b>KAMBIRA &#8211; KUBURAN   BAYI / PASSILIKAN</b></td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">
<p align="justify">   <a href="http://www.batusura.de/kambira.htm"><img src="http://www.batusura.de/wisata/kambira.jpg" alt="Click for more pictures" align="left" border="0" height="200" hspace="5" vspace="6" width="150" /></a><font size="3">Seseorang yang belum tembuh gigi apabila meninggal dunia akan   dikuburkan ke dalam sebatang pohon kayu yang hidup dari jenis pohon kayu   Tarra&#8217;. Kayu yang digunakan dilokasi ini telah berumur sekitar ± 300   tahun yang lalu.</font><br />
<font size="3"> Proses pelaksanaan pekuburan sejenis ini mengenal tahap-tahap   sebagai berikut:</font></p>
<p><font size="3">Bayi yang meninggal dibalut dengan kian putih yang pernah       dipakai dalam posisi dalam keadaan dipangku.<br />
Kemudian keluarga memberi tanda pada pohon kayu yang hendak       digunakan sebagai kuburan (ma&#8217;tanda kayu).<br />
Membuat lubang dengan ketentuan tidak boleh berhadapan dengan       rumah kediamannya.<br />
Mempersiapkan penutup kubur dari bahan pelepah enau (kulimbang       ijuk).<br />
Membuat tana&#8217; (pasak) karurung dari ijuk sesuai tingkatan       strata sosialnya.<br />
12 tana&#8217; karurung bagi tingkatan bangsawan.<br />
8 tana&#8217; karurung bagi tingkatan menengah.<br />
6 tana&#8217; karurung bagi tingkatan bawah.</font></p>
<p align="justify">   <font size="3">Ma&#8217;kadende&#8217; yaitu membuat tali ijuk sebelum jenasah dibawa   ke kuburan, seekor babi jantan hitam dipotong/disembelih di halaman rumah   duka, kemudian dibawa ke kuburan dengan diusung. Setibanya di kuburan babi/daging   tersebut dimasak dalam bambu/dipiong, tanpa diberi garam atau bumbu lainnya   setelah semua itu siap mayat dibawah ke kuburan dengan syarat sebagai   berikut:</font></p>
<ul>
<li>
<p align="justify">       <font size="3"> Dibawa dalam posisi dipangku.</font></p>
</li>
<li>
<p align="justify">       <font size="3"> Pengantar mayat baik laki-laki maupun perempuan harus berselubung       kain.</font></p>
</li>
<li>
<p align="justify">       <font size="3">Dilarang berbicara, menoleh ke kiri atau ke kanan maupun ke       belakang.</font></p>
</li>
</ul>
<p align="justify">   <font size="3"> Setibanya jenasah di pekuburan penjemput jenasah turun dari   tangga lalu mengambil, mengangkat, dan memasukkan jenasah ke dalam lubang   kayu dalam posisi berlutut menghadap keluar. Kemudian kubur itu ditutup dengan   kulimbang di tana&#8217; /dipasak sesuai dengan statusnya dan sesudah ini dilapisi   dengan ijuk dan diikat dengan kadende&#8217; (tali ijuk).</font><br />
<font size="3"> Sepanjang kegiatan tersebut di atas, seluruh orang yang hadir   dilarang berbicara, nanti setelah ma&#8217;taletek pa&#8217;piong (membelah bambu berisi   daging yang sudah masak) berarti orang sudah boleh berbicara dan orang yang   berada diatas tangga sudah boleh turun.</font></td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755"><font size="3"><b>KE&#8217;TE&#8217; KESU&#8217;</b></font></td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">
<p align="justify">   <a href="http://www.batusura.de/kete.htm"><img src="http://www.batusura.de/wisata/ketekesu.jpg" alt="Click for more pictures" align="left" border="0" height="150" hspace="5" vspace="6" width="200" /></a><font size="3">Ke&#8217;te&#8217; Kesu&#8217; adalah obyek wisata yang sudah populer diantara turis   domestik dan asing sejak tahun 1979 terletak dikampung Bonoran yang berjarak   4 km dari Kota Rantepao, telah ditetapkan sebagai salah satu Cagar Budaya   dengan nomor registrasi 290 yang perlu dilestarikan / dilindungi. obyek wisata   ini sangat menarik, oleh karena memiliki suatu kompleks perumahan adat Toraja   yang masih asli, yang terdiri dari beberapa Tongkonan, lengkap dengan Alang   Sura&#8217; (lumbung padinya).<br />
Tongkonan tersebut dari leluhur Puang ri Kesu&#8217; di fungsikan sebagai tempat   bermusyawarah, mengelolah, menetapkan dan melaksanakan aturan-aturan adat,   baik aluk maupun pemali yang digunakan sebagai aturan hidup dan bermasyarakat   di daerah Kesu&#8217;, dan juga di seluruh Tana Toraja, yang disebut aluk Sanda   Pitunna (7777). Obyek wisata ini dilengkapi pula dengan areal; upacara pemakaman   (rante), kuburan (liang) purba dan makam-makam modern, namun tetap berbentuk   motif khas Toraja, pemukiman, perkebunan dan persawahan yang cantik dan   menyejukkan hati. Sekaligus para pengunjung dapat menyaksikan seni ukir Toraja   di lokasi ini.</font></td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755"><b><font size="3">LEMO BUNTANG</font></b></td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">
<p align="justify">   <a href="http://www.batusura.de/lemobu.htm"><img src="http://www.batusura.de/wisata/lemo.jpg" alt="Click for more pictures" align="left" border="0" height="147" hspace="5" vspace="6" width="200" /></a><font size="3">Lemo adalah tempat pekuburan dinding berbatu dan patung-patung   (tau-tau). Jumlah lubang batu kuno ada 75 buah dan tau-tau yang tegak berdiri   sejumlah 40 buah sebagai lambang-lambang prestise, status, peran dan kedudukan   para bangsawan di desa Lemo. Di beri nama Lemo oleh karena model liang batu   ini ada yang menyerupai jeruk bundar dan berbintik-bintik.</font>   <font size="3">Sejak tahun 1960, obyek wisata ini telah ramai di kunjungi   para wisatawan asing dan wisatawan nusantara.</font><br />
<font size="3">Pengunjung dapat pula melepaskan keinginannya dan membelanjakan   dolarnya, euronya atau rupiahnya pada kios-kios souvenir. Ataukah berjalan-jalan   sekitar obyek menyaksikan buah-buah pangi yang ranum kecoklatan, yang siap   diolah dan di makan sebagai makanan khas suku Toraja yang di sebut &#8220;Pantollo   Pamarrasan&#8221;. Selamat menikmati.</font></td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755"><b>LO&#8217;KO&#8217; MATA</b></td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">
<p align="justify">   <a href="http://www.batusura.de/lokomata.htm"><img src="http://www.batusura.de/wisata/lokomata.jpg" alt="Click for more pictures" align="left" border="0" height="150" hspace="5" vspace="6" width="200" /></a><font size="3">Lo&#8217;ko&#8217; Mata (Lokomata) mengambil posisi di lerang gunung Sesean   pada ketinggian ± 1.400 m di atas permukaan laut. Suatu tempat yang   sangat menawan, fantastik dan bila seseorang datang dan menyaksikan serta   merenungkan ciptaan ini rasa kangen pasti ada. Selain itu anda dapat menyaksikan   panorama alam yang sangat indah dan deru arus sungai di bawah kaki kuburan   alam ini. Yang terletak di desa Pangden ± 30 km dari kota   Rantepao.</font></p>
<p><font size="3">Nama Lo&#8217;ko&#8217; Mata diberi kemudian oleh karena batu alam yang   dipahat ini menyerupai kepala manusia, tetapi sebenarnya liang Lo&#8217;ko&#8217; Mata   sebelumnya bernama Dassi Dewata atau Burung Dewa, oleh karena liang ini ditempati   bertengger dan bersarang jenis-jenis burung yang indah-indah warna bulunya,   dengan suara yang sangat mengasyikkan tetapi kadang-kadang menakutkan.</font></p>
<p><font size="3">Pada abad ke 14 (1480) datanglah pemuda Kiding memahat batu raksasa ini untuk   makam mertuanya yang bernama Pong Raga dan Randa Tasik (I) selanjutnya pada   abad 16 tahun 1675 lubang rang ke II dipahat oleh Kombong dan Lembang. Dan   pada abad ke 17 lubang yang ke III dibuat oleh Rubak dan Datu Bua&#8217;. Liang   pahat ini tetap digunakan sampai saat ini saat kita telah memasuki abad ke   / (milenium III). Luas areal obyek wisata. Lo&#8217;ko&#8217; Mata ± 1 ha dan semua   lubang yang ada sekitar 60 buah.</font></td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755"><b>LOMBOK PARINDING</b></td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">
<p align="justify">   <a href="http://www.batusura.de/lompar.htm"><img src="http://www.batusura.de/wisata/lombok.jpg" alt="Click for more pictures" align="left" border="0" height="150" hspace="5" vspace="6" width="200" /></a><font size="3">Kuburan Erong Lombok Parinding adalah merupakan salah satu obyek   wisata yang menarik karena mempunyai daya tarik tersendiri seperti Erong   yang unik dan antik, yang terletak di Dusun Parinding Matampu Kecamatan Sesean,   kurang lebih 7 km dari kota Rantepao ke utara.</font> <font size="3">Lombok   Parinding pertama kali ditempati oleh salah seorang yang bernama Tomangli   anak dari suami istri Bongga Tonapo dan Datu Banua sekaligus cucu dari suami   istri Palairan dan Patodemmanik dan disitulah mereka menetap mendirikan rumah   sambil bertani-sawah.</font> <font size="3">Selanjutnya Tomangli melahirkan   8 orang dan anak Tomangli berkembang biak sampai sekarang (keturunan yang   ke 7).</font> <font size="3">Melihat dan memperhatikan serta menghitung-hitung   umur dan kuburan erong Lombok Parinding mulai dari ke 8 orang anak-anak Tomongli   sudah berumur kurang lebih 700 tahun. Demikianlah sejarah singkat kuburan   erong Lombok Parinding. Semoga sejarah singkat ini dapat bermanfaat bagi   wisatawan dan dapat dijadikan sebagai bahan informasi.</font></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755"><b>LONDA</b></td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">
<p align="justify">   <a href="http://www.batusura.de/londa.htm"><img src="http://www.batusura.de/wisata/londa.jpg" alt="Click for more pictures" align="left" border="0" height="150" hspace="5" vspace="6" width="200" /></a><font size="3">Sama dengan Lemo, Londa adalah tempat pekuburan dinding berbatu   dan patung-patung (tau-tau). Di dalamnya terdapat gua dengan banyak tengkorak   kepala manusia. obyek wisata Londa yang berada di desa Sandan Uai Kecamatan   Sanggalangi&#8217; dengan jarak 7 km dari kota Rantepao, arah ke selatan, adalah   kuburan alam purba. Gua yang tergantung itu, menyimpan misteri yakni erong   puluhan banyaknya, dan penuh berisikan tulang dan tengkorak para leluhur,   tau-tau. Tau-tau adalah pertanda bahwa telah sekian banyak putra-putra Toraja   terbaik telah dimakamkan melalui upacara adat tertinggi di wilayah Tallulolo.   Gua-gua alam ini penuh dengan panorama yang menakjubkan ± 1.000 m jauh   kedalam, dapat dinikmati dengan petunjuk guide yang sudah terlatih dan   profesional.</font><br />
<font size="3">Kuburan alam purba ini dilengkapi dengan sebuah &#8220;Benteng   Pertahanan&#8221;. Patabang Bunga yang bernama Tarangenge, yang terletak di atas   punggung gua alam ini. obyek ini sangat mudah dikunjungi, oleh karena sarana   dan prasarana jalannya baik. Satu hal perlu diingat bahwa seseorang yang   berkunjung ke obyek ini, wajib memohon izin dengan membawa sirih pinang,   atau kembang. Sangat tabu/pemali (dilarang keras) untuk mengambil atau   memindahkan tulang, tengkorak, atau mayat yang ada dalam gua ini.</font></td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755"><b><font size="3">MAKALE, IBUKOTA TANA TORAJA</font></b></td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">
<p align="justify">   <a href="http://www.batusura.de/makale.htm"><img src="http://www.batusura.de/wisata/makale.jpg" alt="Click for more pictures" align="left" border="0" height="150" hspace="5" vspace="6" width="200" /></a><font size="3">Pada asal mulanya Makale berasal dari kata Makale menurut kata orang,   penduduk yang hidup di Makale senantiasa bangun pada waktu matahari belum   terbit (Makale&#8217;) oleh karena leluhur mereka mempercayai bahwa orang yang   bangun mendahului matahari terbit (Makale&#8217;) selalu mendapat keberuntungan   atau rezeki. Tetapi karena perubahan ucapan kata maka Makale&#8217; berubah menjadi   Makale. Makale adalah pusat pemerintahan dan juga terkenal sebagai kota tenang   dan damai. Di tengah-tengah kota Makale terdapat sebuah kolam yang airnya   jernih dan penuh berisi dengan bermacam jenis ikan. Kolamnya di sebut kolam   Makale.</font><br />
<font size="3">Bukit-bukit yang terjal dari kota dimahkotai oleh puncak menara   gereja, sembari kaki lembah didominasi oleh bangunan pemerintah yang baru.   Banyak di antaranya mengambil tipe bangunan rumah tradisional Toraja arsitektur   yang penuh dengan ukiran dan atap yang melengkung. Kota merupakan daerah   yang tepat menghubungkan dengan daerah Toraja barat, sekitar Londa, Suaya   dan Sangalla. Pada saat pasar kota ini merupakan pusat aktivitas karena rakyat   dari jauh datang dengan hasil produksinya berupa binatang, kerajinan tangan   tikar, keranjang dan kerajinan buatan lokal</font>.</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755"><b>MAKULA</b></td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">
<p align="justify">   <a href="http://www.batusura.de/makula.htm"><img src="http://www.batusura.de/wisata/makula.jpg" alt="Click for more pictures" align="left" border="0" height="150" hspace="5" vspace="6" width="200" /></a><font size="3">Rekreasi bagi manusia-manusia modern yang kini hidup dalam abad   komputer dan IPTEK yang canggih, bukan lagi sekedar sebagai pelengkap, tapih   sudah menjadi kebutuhan utama, untuk membuat otak, hati dan perasaan mengalami   refreshing. Oleh sebab itu kami mengajak anda untuk segera mengunjungi kolam   renang air panas Makula yang jaraknya hanya 28 km dari kota Rantepao. Di   tempat ini ada sumber mata air panas, di samping ada rumah tempat istirahat   mempunyai bak mandi dengan sumber mata air yang mengalir. Di muka ada kolam   kecil untuk anak-anak diisi oleh air panas yang mengalir dari belakang rumah.   Tempat ini sangat baik untuk berendam di air panas setelah perjalanan jauh.   Pergi pulang, anda dapat menikmati pemandangan alam yang menyenangkan hati.   Selamat berekreasi dan jangan lupa membawa keluarga.</font></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755"><b>MARANTE</b></td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">
<p align="justify">   <a href="http://www.batusura.de/marante.htm"><img src="http://www.batusura.de/wisata/marante.jpg" alt="Click for more pictures" align="left" border="0" height="150" hspace="5" vspace="6" width="200" /></a><font size="3">Pada mulanya Desa Tondon lasim disebut Mesa&#8217; Ba&#8217;bana Tondon Apa&#8217;   Tepona Padang, yaitu Tondok Batu, Siba&#8217;ta, Kondo&#8217; dan Langi&#8217;. Sangpulo dua   Karopi&#8217;na itulah Desa Tondon, yang dipimpin oleh dua pemangku adat yang lazim   disebut Toparenge&#8217;, yaitu Marante dan Barang Bua&#8217;. Fungsi Toparenge&#8217; disini   adalah memimpin segala kegiatan yang dilaksanakan oleh masyarakat baik itu   upacara pesta syukur (Rambu Tuka&#8217;) maupun upacara pesta pemakaman (Rambu   Solo&#8217;), juga penentu kebijakan-kebijakan yang berlaku dalam masyarakat. Seiring   dengan kemajuan pembangunan dan terpilihnya Tana Toraja sebagai salah satu   daerah tujuan wisata di Indonesia. </font><br />
<font size="3">Sejak itu juga Marante terpilih sebagai salah satu obyek wisata   yang ada di Tana Toraja, karena Marante mempunyai letak yang sangat strategis,   yaitu terletak pada jalan poros dari Makassar ke Palopo dan letaknya tidak   jauh dari kota Rantepao yang jaraknya kira-kira 4 km. Disamping itu Marante   mempunyai daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing yang datang berkunjung   ke Marante, baik itu wisatawan mancanegara maupun wisatawan   nusantara/domestik</font></p>
<p align="justify">   <font size="3"> Obyek wisata Marante memiliki banyak daya tarik   peninggalan-peninggalan kuno yaitu berupa;</font><br />
<font size="3">- Rumah adat (rumah tongkonan)<br />
- Patung-patung (tau-tau)<br />
- Erong<br />
- Kuburan batu/liang pahat<br />
- Patane (kuburan kayu)</font></p>
<p align="justify">   <font size="3"> Dan masih banyak lagi pemandangan yang bisa memikat hati   wisatawan. Demikianlah sekelumit sejarah singkat dan daya tarik obyek wisata   Marante.</font></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755"><b>NANGGALA (PENANIAN)</b></td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">
<p align="justify">   <a href="http://www.batusura.de/nangga.htm"><img src="http://www.batusura.de/wisata/nanggala.jpg" alt="Click for more pictures" align="left" border="0" height="150" hspace="5" vspace="6" width="200" /></a><font size="3">Dahulu kala seorang lelaki dari Gunung Sesean bernama &#8220;Tomadao&#8221;   bertualang. Dalam petualangannya ia bertemu dengan seorang gadis dari gunung   Tibembeng bernama &#8220;Tallo Mangka Kalena&#8221;. Mereka kemudian menikah dan bermukim   di sebelah timur desa Palawa&#8217; sekarang ini yang bernama Kulambu. Dari perkawinan   ini lahir seorang anak laki-laki bernama Datu Muane&#8217; yang kemudian menikahi   seorang wanita bernama Lai Rangri&#8217;. Kemudian mereka beranak pinak dan mendirikan   sebuah kampung yang sekaligus berfungsi sebagai benteng pertahanan. Apabila   ada peperangan antara kampung dan ada lawan yang menyerang dan   dikalahkan/dibunuh, maka darahnya diminum dan dagingnya dicincang dan disebut   Pa&#8217;lawak. Pada pertengahan abad ke 11 berdasarkan musyawarah adat disepakati   mengganti nama Pa&#8217;lawak menjadi Palawa&#8217;. Palawa&#8217; sebagai suatu kompleks perumahan   adat. Dan bukan lagi daging manusia yang dimakan, tetapi diganti dengan ayam,   dan disebut Pa&#8217;lawa&#8217; manuk.</font><br />
<font size="3">Keturunan Datu Muane secara berturut-turut membangun tongkonan   di Palawa&#8217;.</font></p>
<p align="left">   <font size="3"> Sekarang ini terdapat sebelas tongkonan (rumah adat) yang   urutannya sebagai berikut (dihitung dari sebelah barat):<br />
1.   Tongkonan Salassa&#8217; dibangun oleh Salassa&#8217;<br />
2.   Tongkonan Buntu dibangun oleh Ne&#8217; Tatan<br />
3.   Tongkonan Ne&#8217; Niro dibangun oleh Patangke dan Sampe bungin<br />
4.   Tongkonan Ne&#8217; Darre dibangun oleh Ne&#8217; Matasik<br />
5.   Tongkonan Ne&#8217; Sapea dibangun oleh Ne&#8217; Sapiah<br />
6.   Tongkonan Katile dibangun oleh Ne&#8217; Pipe<br />
7.   Tongkonan Ne&#8217; Malle dibangun oleh Ne&#8217; Malle<br />
8.   Tongkonan Sasana Budaya dibangun oleh Ne&#8217; Malle<br />
9.   Tongkonan Bamba II dibangun oleh Patampang<br />
10. Tongkonan Ne&#8217; Babu&#8217; dibangun oleh Ne&#8217; Babu&#8217;<br />
11. Tongkonan Bamba I dibangun oleh Ne&#8217; Ta&#8217;pare</font></p>
<p align="justify">   <font size="3"> Sebagaimana layaknya tongkonan di Tana Toraja, maka tongkonan   Palawa&#8217; juga memiliki rante yang disebut Rante Pa&#8217;padanunan dan liang tua (kuburan   batu) di Tiro Allo dan Kamandi. Selain Tongkonan juga dibangun lumbung   atau alang sura&#8217; (tempat menyimpan padi) sebanyak 5 buah.</font></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755"><b><font size="3">PANGLI, PATANE PONG MASSANGKA</font></b></td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">
<p align="justify">   <a href="http://www.batusura.de/pangli.htm"><img src="http://www.batusura.de/wisata/pangli.jpg" alt="Click for more pictures" align="left" border="0" height="200" hspace="5" vspace="6" width="150" /></a><font size="3">Patane (kuburan dari kayu berbentuk rumah Toraja) dibangun pada   tahun 1930. Untuk seorang janda yang bernama Palindatu yang meninggal pada   tahun 1920 dan diupacarakan secara adat Toraja tertinggi yang disebut Rapasan   sapu randanan. Palindatu dikawini oleh seorang putra bernama Tangkeallo dan   melahirkan beberapa anak. Salah satu anaknya yang bungsu bernama Semba&#8217; alias   Pong Massangka dengan gelar Ne&#8217; Babu&#8217; oleh kematian misionaris Belanda Arie   van de Loosdrecht di Rante Dengen Bori&#8217; pada tanggal 27 Desember 1917, maka   Pong Massangka alias Ne&#8217; Babu&#8217; salah satu yang tertuduh sehingga dihukum   buang ke Bogor / Nusa Kambangan dan dikembalikan pada tahun 1930 ke Tana   Toraja dan meninggal dunia pada tahun 1960 dalam usia 120 tahun (lahir 1840).<br />
Mayat Pong Massangka dengan gelar Ne&#8217; Babu&#8217; disemayamkan dalam patane ini   dan tau-taunya yang terbuat dari batu yang dipahat siap menanti kunjungan anda.</font></td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755"><b>RANTE KARASSIK</b></td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">
<p align="justify">   <a href="http://www.batusura.de/rantekar.htm"><img src="http://www.batusura.de/wisata/rante.jpg" alt="Click for more pictures" align="left" border="0" height="150" hspace="5" vspace="6" width="200" /></a>  Obyek   wisata uli berada di tengah-tengah pemukiman masyarakat Rantepao. Jaraknya   hanya ± 200 m dari poros jalan Makale- Rantepao. Rante Karassik adalah   tempat pelaksanaan upacara adat pemakaman bangsawan dari Tongkonan Kamiri   di Potoksia Buntu Pune. Rante tersebut mulai digunakan pada abad ke 19 oleh   Pong Maramba&#8217; untuk acara upacara adat Rambu&#8217; Solo&#8217; Rapasan Sundun bagi   keluarganya.</p>
<p align="justify">   Lokasi ini memiliki batu simbuang megalit (menhir) yang jumlahnya 12 buah   masih megah tertancap di atas tanah, dan ada yang ringginya 7,5 m serta puluhan   lainnya masih tertanam di dalam tanah. Menhir ini adalah simbol bahwa telah   sekian banyak upacara adat Rambu Solo&#8217; Rapasan yang telah dilaksanakan di   lokasi tersebut.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755"><b><font size="3">RANTEPAO, PUSAT WISATA DI TANA TORAJA</font></b></td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">
<p align="justify">   <a href="http://www.batusura.de/rantep.htm"><img src="http://www.batusura.de/wisata/rantepao.jpg" alt="Click for more pictures" align="left" border="0" height="150" hspace="5" vspace="6" width="200" /></a><font size="3">Lokasi yang pasti sudah banyak di kenal ke seluruh dunia adalah   pusat wisata di Tana Toraja. Rantepao, 328 km arah utara dari kota Makassar.   Terletak 800 meter di atas permukaan laut, Rantepao menawarkan malam-malam   yang sejuk dan menyenangkan.</font></p>
<p align="justify">   <font size="3"> Di Rantepao adalah banyak </font>biro tour &amp; travel (rafting   di sunga Sa&#8217;dan atau Maiting, package tours ke Tentena, Manado, Bali dll.)   dan toko-toko <font size="3">cinderamata yang menjual souvenir khas Toraja,   diantaranya: kain tenun, patung, golok (dari yang kecil s/d yang besar),   ukiran kayu dan lain-lain. Di kota Rantepao adalah 4 pusat informasi   pariwisata,   12 hotel berbintang dan kira-kira 60 hotel sederhana, wisma dan losmen yang   murah untuk backpackers.</font></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755"><b>SIGUNTU&#8217;</b></td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">
<p align="justify">   <a href="http://www.batusura.de/sigunt.htm"><img src="http://www.batusura.de/wisata/siguntu.jpg" alt="Click for more pictures" align="left" border="0" height="150" hspace="5" vspace="6" width="200" /></a>  Objek   wisata Siguntu&#8217; yang terletak di Dusun Kadundung, Desa Nonongan Kecamatan   Sanggalangi&#8217; dengan jarak 5 km dari Kota Rantepao. Objek wisata Siguntu&#8217;   mempunyai daya tarik utama adalah Tongkonan yang unik dan berada di sebuah   bukit dengan pemandangan yang mempesona, dikelilingi hamparan sawah pada   bagian timur serta tebing-tebing bukit Buntu Tabang. Obyek Wisata Siguntu&#8217;   mempunyai arti dan makna yang sangat luas dimana semula Tongkonan ini dikenal   sebagai Tongkonan Tirorano yang bertempat di Tirorano rang dibangun oleh   Pong Tanditulaan namun oleh karena sudah roboh dan tempatnya yang kurang   strategis maka oleh keluarga membangun kembali dan disatukan di Siguntu&#8217;.   Bersama Tongkonan Siguntu&#8217; dan Tongkonan Solo&#8217; itulah yang disebut Siguntu&#8217;.   Tongkonan tersebut dibuka sebagai objek wisata tahun 1973 dan pada tahun   1974 Tongkonan ini dirara (diupacarakan secara adat / Rambu Tuka&#8217;) dimana   dihadiri oleh para delegasi 60 negara asing yang mengikuti konferensi PATA   di Jakarta tahun 1974. Sejak itulah Toraja semakin dikenal sebagai Daerah   Tujuan Wisata yang handal dan menakjubkan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755"><b>SILLANAN</b></td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">
<p align="justify">   <a href="http://www.batusura.de/silanan.htm"><img src="http://www.batusura.de/wisata/sillanan.jpg" alt="Click for more pictures" align="left" border="0" height="150" hspace="5" vspace="6" width="200" /></a>   Obyek wisata Ma&#8217;duang Tondok terletak di kecematan Mengkendek ± 20 km   arah selatan Makale di Desa Sillanan.</p>
<p>   Objek tersebut didukung oleh 4 objek wisata yaitu;<br />
- Obyek wisata Lo&#8217;ko&#8217;wai<br />
- Obyek wisata To&#8217;Banga<br />
- Obyek wisata Pangrapasan dan Ma&#8217;dandan<br />
- Obyek wisata Tongkonan Karua Sillanan</p>
<p align="justify">   Objek tersebut masing-masing mempunyai daya tarik yang spesifik dan mempunyai   keunggulan tersendiri seperti:</p>
<ul>
<li>
<p align="justify">       Lo&#8217;ko wai; di tempat lokasi ini terdapat mayat bayi yang unik dan awet (di       mummy) di mana rambut, kuku, gigi serta kulitnya masih utuh meskipun umur       mayat tersebut diperkiran sudah berumur ± 4½ abad. Mayat tersebut       di sakralkan oleh masyarakat di wilayah adat Ma&#8217;duang Tondok yang secara       mitologis diyakini adalah keturunan Dewa.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">       Kurang lebih 400 m sebelah selatan terdapat kuburan manusia purba yang terdiri       dari tumpukan Erong, serta beberapa liang pahat disekitarnya. Hal lain yang       bisa kita nikmati disekitar objek-objek ini adalah beberapa liang pahat       disekitarnya. Hal lain yang bisa kita nikmati disekitar objek-objek ini adalah       keindahan alam. Para pengunjung masih dapat menyaksikan pohon-pohon tropis       yang terpelihara walaupun umurnya telah tua berkhasiat obat. Perkampungan       tradisional yang masih asli dan unik tempat upacara adat, satu benteng pertahan       yang digunakan untuk memantau musuh pada sekitar abad ke 16. Dan tidak pernah       diterobos oleh musuh pada zaman dahulu. Wilayah obyek wisata Ma&#8217;duang Tondok       secara keseluruhan sampai saat ini masih terpelihara dengan baik dan siap       menanti kunjungan anda.</p>
</li>
</ul>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755"><b><font size="3">SUAYA</font></b></td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">
<p align="justify">   <a href="http://www.batusura.de/suaya.htm"><img src="http://www.batusura.de/wisata/suaya.jpg" alt="Click for more pictures" align="left" border="0" height="150" hspace="5" vspace="6" width="200" /></a><font size="3">Kuburan berada di salah satu sisi dari bukit. Dipahat sebagai tempat   beristirahat dari tujuh raja dan keluarga kerajaan Sangalla. Tau-tau dari   raja-raja dan keluarga raja berpakaian sesuai dengan pakaian adat raja Toraja   di tempatkan dimuka kuburan batu. Tangga batu tersedia untuk naik ke bukit   dimana raja dikala hidupnya digunakan untuk bersepi-sepi, ditempat itu akan   dibuat museum untuk menempatkan harta kekayaan dari raja-raja Sangalla.</font></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755"><b><font size="3">TAMPANG ALLO</font></b></td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755"><a href="http://www.batusura.de/tampan.htm"><img src="http://www.batusura.de/wisata/tampangallo.jpg" alt="Click for more pictures" align="left" border="0" height="200" hspace="5" vspace="6" width="150" /></a><font size="3">Sejarah singkat obyek wisata Tampang Allo (atau Tampangallo) ini   merupakan sebuah kuburan gua alam yang terletak di Kelurahan Kaero Kecamatan   Sangalla&#8217; dan berisikan puluhan erong, puluhan tau-tau dan ratusan tengkorak   dan tulang belulang manusia. Pada sekitar abad ke 16 oleh penguasa Sangalla&#8217;   dalam hal ini Sang Puang Manturino bersama istrinya Rangga Bulaan memilih   Gua Tampang Allo sebagai tempat pemakamannya kelak jika mereka meninggal   dunia.<br />
Demikianlah Rangga Bulaan di gadis cantik, asuhan sang kera, meninggal lebih   dahulu dan jenazahnya dimasukkan ke dalam Erong serta diletakkan dalam gua   Tampang Allo. Sedangkan Sang Puang Manturino pada saat meninggal Erong   ditempatkan pada pemakaman losso&#8217; yang letaknya tidak jauh dari Tampang Allo.   Entah bagaimana kemudian erong Sang Puang ternyata kosong. Sedangkan jenazahnya   telah bersatu dengan jenazah istrinya di Tampang Allo. Lama setelah Sang   Puang dan istrinya Rangga Bulaan meninggal dunia pusaka kerajaan yang disebut   Bakasiroe&#8217; diambil alih oleh Puang Musu&#8217; sebagai penguasa Tongkonan Puang   Kalosi. Pada masa itu juga Tana Toraja yang dikenal sebagai Tondok Lepongan   Bulan Tana Matarik Allo berada dalam kekacauan akibat serangan dari kerajaan   Bone. Terjadi juga peperangan antara daerah/ masyarakat setempat dan tentara   Bone membantu salah satunya dan akibat yang kalah perang dirampas sawah dan   kekayaannya serta orang-orangnya dikirim ke Madan dan ke daerah   Bugis.</font><br />
<font size="3">Puang Musu&#8217; membawa pusaka Baka Siroe&#8217; mengungsi ke Madan   dan sewaktu Puang ini menyeberang sungai Sa&#8217;dan dan salah seorang yang bernama   Karasiak membunuh Puang Musu&#8217; dan merampas Baka Siroe&#8217;. Keturunan Puang Musu&#8217;   selalu berusaha dengan cara apapun untuk mengembalikan pusaka Baka Siroe&#8217;   ke tempatnya semula pada tahun 1934, terjadilah perdamaian antara Puang Musu&#8217;   dengan keturunan Karasiak melalui perkawinan. Kemudian dengan lahirnya anak   di pari tangga, Pusaka Baka Siroe&#8217; diberikan kepada anak tersebut untuk menyimpan   dan memeliharanya. Demikian juga tempat pemakaman mereka kelak disepakati   di Gua Tampang Allo sebagai perwujudan perjanjian dan sumpah suami istri   yaitu &#8220;sehidup semati satu kubur kita berdua&#8221;.</font></td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755"><b>TILANGNGA&#8217;</b></td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">
<p align="justify">   <a href="http://www.batusura.de/tilanga.htm"><img src="http://www.batusura.de/wisata/tilanga.jpg" alt="Tilanga" align="left" border="0" height="141" hspace="5" vspace="6" width="200" /></a>  Tilangnga&#8217; (Tilanga)   sebagai obyek wisata permandian alam, ± 12 km dari kota Rantepao, arah   selatan. Bila pengunjung ingin melemaskan otot-otot dan urat-urat yang penat   sepanjang hari berkeliling ke obyek-obyek wisata, jangan lupa mandi di kolam   air dingin Tilangnga&#8217;. Airnya sangat jernih, dingin, sejuk dan tidak pernah   kering. Dan anda juga dapat menyaksikan ikan-ikan berwarna bersama belut-belut   yang santai dalam kolam permandian ini, tanpa merasa terusik. Pada saat ini   air yang mengalir dari obyek wisata ini digunakan untuk air PAM bagi masyarakat   kota Makale dan sekitarnya.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755"><b><font size="3">TO&#8217;BARANA&#8217; SA&#8217;DAN</font></b></td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">
<p align="justify">   <a href="http://www.batusura.de/tobara.htm"><img src="http://www.batusura.de/wisata/tobarana.jpg" alt="Click for more pictures" align="left" border="0" height="150" hspace="5" vspace="6" width="200" /></a><font size="3">Di lokasi To&#8217;Barana pada mulanya dilili&#8217; atau dibentuk oleh nenek   moyang keluarga To&#8217;Barana&#8217; yang bernama Langi&#8217; Para&#8217;pak yang dijadikan   perkampuang keluarga yang luasnya kira-kira 300 x 150 meter dan mendirikan   sebuah rumah tongkonan keluarga yang dinamai tongkonan To&#8217;Barana&#8217;. Dibaharui   oleh leluhur To&#8217;Barana&#8217; bernama Puang Pong Labba kira-kira dua abad yang   lalu dan kemudian dibaharui pula oleh keluarga Puang Pong Padata pada tahun   1959, dimana lokasi dan rumah tongkonan tersebut diwariskan kepada turun   temurunnya sampai dewasa ini dan sudah menjadi obyek wisata pertenunan   asli.</font></p>
<p align="justify">   <font size="3"> Lokasi tersebut di pinggir sungai Sa&#8217;dan dan dikelilingi   sungai Sa&#8217;dan yang berbentuk huruf &#8220;S&#8221; itulah sebabnya To&#8217;Barana&#8217; adalah   pusat Sa&#8217;dan.</font></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755"><b>TONDON MAKALE</b></td>
</tr>
<tr>
<td width="755">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="755">
<p align="justify">   <a href="http://www.batusura.de/tondonmak.htm"><img src="http://www.batusura.de/wisata/tondon.jpg" alt="Click for more pictures" align="left" border="0" height="150" hspace="5" vspace="6" width="200" /></a><font size="3">Letaknya di tepi jalanan kecil di dekat pasar Makale. Di sisi dari   bukit terdapat barisan tau tau di muka dari kuburan gua. Kuburan ini adalah   kepunyaan para keluarga bangsawan.</font><br />
<font size="3">Tau-tau adalah patung yang menggambarkan si mati. Pada pemakaman   golongan bangsawan atau penguasa / pemimpin masyarakat muka salah satu unsur   Rapasan (pelengkap upacara acara adat), ialah pembuatan tau-tau. Tau-tau   ini dibuat dari kayu nangka yang kuat yang pada saat penebangannya dilakukan   secara adat. Mata yang hitam dibuat dari tulang dan tanduk kerbau. Tau-tau   tersebut diatas terdapat di Toraja yakni tempat pekuburan di dinding berbatu.</font></p>
<p align="justify">daftar pustaka:http://members.aol.com/batusura/wisata.htm</p>
</td>
</tr>
</table>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aguscaplink.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aguscaplink.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aguscaplink.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aguscaplink.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aguscaplink.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aguscaplink.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aguscaplink.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aguscaplink.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aguscaplink.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aguscaplink.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aguscaplink.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aguscaplink.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aguscaplink.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aguscaplink.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aguscaplink.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aguscaplink.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aguscaplink.wordpress.com&amp;blog=2612551&amp;post=10&amp;subd=aguscaplink&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aguscaplink.wordpress.com/2008/03/17/obyek-isata-sulawesi-selatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/edf69844fdb09c9d36bbbfcee06771c5?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">aguscaplink</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.batusura.de/wisata/batutumonga.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Click for more pictures</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.batusura.de/wisata/bori.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Click for more pictures</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.batusura.de/wisata/buntao.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Click for more pictures</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.batusura.de/wisata/kalando.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Click for more pictures</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.batusura.de/wisata/buntupune.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Click for more pictures</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.batusura.de/wisata/galuga2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Galuga Dua</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.batusura.de/wisata/kambira.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Click for more pictures</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.batusura.de/wisata/ketekesu.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Click for more pictures</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.batusura.de/wisata/lemo.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Click for more pictures</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.batusura.de/wisata/lokomata.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Click for more pictures</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.batusura.de/wisata/lombok.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Click for more pictures</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.batusura.de/wisata/londa.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Click for more pictures</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.batusura.de/wisata/makale.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Click for more pictures</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.batusura.de/wisata/makula.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Click for more pictures</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.batusura.de/wisata/marante.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Click for more pictures</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.batusura.de/wisata/nanggala.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Click for more pictures</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.batusura.de/wisata/pangli.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Click for more pictures</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.batusura.de/wisata/rante.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Click for more pictures</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.batusura.de/wisata/rantepao.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Click for more pictures</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.batusura.de/wisata/siguntu.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Click for more pictures</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.batusura.de/wisata/sillanan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Click for more pictures</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.batusura.de/wisata/suaya.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Click for more pictures</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.batusura.de/wisata/tampangallo.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Click for more pictures</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.batusura.de/wisata/tilanga.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Tilanga</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.batusura.de/wisata/tobarana.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Click for more pictures</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.batusura.de/wisata/tondon.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Click for more pictures</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kendalikan Game Langsung dengan Otak</title>
		<link>http://aguscaplink.wordpress.com/2008/02/21/kendalikan-game-langsung-dengan-otak/</link>
		<comments>http://aguscaplink.wordpress.com/2008/02/21/kendalikan-game-langsung-dengan-otak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Feb 2008 07:16:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aguscaplink</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aguscaplink.wordpress.com/2008/02/21/kendalikan-game-langsung-dengan-otak/</guid>
		<description><![CDATA[Kamis, 21/02/2008 10:58 WIB Kendalikan Game Langsung dengan Otak Fransiska Ari Wahyu &#8211; detikinet &#60;!&#8211;&#8211;&#62; Epoc headset (BBC) Jakarta &#8211; Cukup menggunakan pikiran dan emosi, kini gamer dapat bermain game. Hal ini dapat dilakukan berkat hadirnya sebuah headset yang mampu membaca saraf otak sehingga manusia dapat berinteraksi langsung dengan game. Piranti ini membaca aktivitas elektrik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aguscaplink.wordpress.com&amp;blog=2612551&amp;post=8&amp;subd=aguscaplink&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Kamis, 21/02/2008 10:58 WIB</div>
<div>Kendalikan Game Langsung dengan Otak</div>
<div> 		Fransiska Ari Wahyu &#8211; detikinet</div>
<div>&lt;!&#8211;<a href="http://ad.detik.com/link/inet/inet-relion2007.ad"></a>&#8211;&gt;</p>
<div><img src="http://www.detikinet.com/images/content/2008/02/21/317/epoc-headset-dlm.jpg" border="0" hspace="0" vspace="0" /><br />
<font color="#000000" face="Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif">Epoc headset (BBC)</font></div>
<p><b>Jakarta</b> &#8211; Cukup menggunakan pikiran dan emosi, kini gamer dapat bermain game. Hal ini dapat dilakukan berkat hadirnya sebuah headset yang mampu membaca saraf otak sehingga manusia dapat berinteraksi langsung dengan game.</p>
<p>Piranti ini membaca aktivitas elektrik otak kemudian mengirimkan sinyal-sinyal tersebut ke komputer. Walhasil video game pun dapat dikendalikan langsung oleh otak. Penggunaan headset untuk membaca aktivitas otak bukanlah hal baru, tapi ini merupakan kali pertama<br />
piranti ini dimanfaatkan untuk bermain game.</p>
<p>Teknologi yang bernama Epoc ini diperkenalkan oleh perusahaan Emotiv. Epoc dapat digunakan untuk memberi ekpresi wajah bagi avatar game, misalnya tersenyum, mengedipkan mata.</p>
<p>&#8220;Headset ini dapat digunakan untuk membangun respon emosional pada karakter game. Ketika gamer tertawa atau berbahagia setelah membunuh karakter lain dalam game, karakter gamer dalam game akan mengingatkan gamer untuk tidak mengenal belas kasihan,&#8221; tutur Tan Le, President US/Australian Emotiv.</p>
<p>Headset ini dapat mendeteksi sekitar 30 ekpresi, emosi dan tindakan. Misalnya, gembira, merenung, tegang dan frustasi, ekspresi wajah seperti senyuman, tertawa, mengedipkan mata, kaget (alis terangkat), marah (alis berkerut), dan tindakan kognitif seperti mendorong, menarik, mengangkat, dan sebagainya.</p>
<p>Seperti dilansir BBC dan dikutip <b>detikINET</b>, Kamis (21/2/2008), headset ini dibanderol seharga USD 299 atau sekitar Rp 2,8 juta, dilengkapi dengan giroskop (sejenis alat navigasi) untuk mendeteksi gerakan dan nirkabel untuk berkomunikasi dengan USB yang dihubungkan ke komputer. Dalam mengembangkan teknologi ini, Emotiv tidak bekerja sendirian, tapi bekerja sama dengan IBM.  <b> 	(	dwn	/	dwn	)	</b></div>
<p><!-- rgesit@online 23jan08 --> 	 	<!-- start comment --></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aguscaplink.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aguscaplink.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aguscaplink.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aguscaplink.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aguscaplink.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aguscaplink.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aguscaplink.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aguscaplink.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aguscaplink.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aguscaplink.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aguscaplink.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aguscaplink.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aguscaplink.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aguscaplink.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aguscaplink.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aguscaplink.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aguscaplink.wordpress.com&amp;blog=2612551&amp;post=8&amp;subd=aguscaplink&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aguscaplink.wordpress.com/2008/02/21/kendalikan-game-langsung-dengan-otak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/edf69844fdb09c9d36bbbfcee06771c5?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">aguscaplink</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.detikinet.com/images/content/2008/02/21/317/epoc-headset-dlm.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
